loading...
BAB
III
LANDASAN
TEORI
3.1 Solar Charge Controller (SCC)
Solar Charge Controller (SCC) adalah
peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur arus pengisian
ke baterai. Solar Charge Controller
berfungsi mengatur overcharging (kelebihan pengisian - karena baterai sudah
penuh) dan kelebihan voltase dari panel surya atau solar cell. Kelebihan pengisian akan mengurangi umur baterai.
Ada dua jenis
teknologi yang umum digunakan oleh solar charge controller yaitu:
a.
Pulse Width Modulation (PWM)
Solar Charge Controller yang
memanfaatkan salah satu jenis modulasi dalam pengisian ke baterai. Modulasi PWM dilakukan dengan cara mengubah perbandingan
lebar-pulsa-positif terhadap lebar-pulsa-negatif ataupun sebaliknya dalam
frekuensi sinyal yang tetap. Yang artinya, total 1 perioda (T)
pulsa dalam PWM adalah tetap. Penyebutan data PWM pada umumnya menggunakan
perbandingan pulsa positif terhadap total pulsa.
Gambar 3.1 PWM Solar
Charge Controller
Gambar 3.2 Sinyal Modulasi PWM
b.
Maximun Power Point Tracker (MPPT)
Solar Charge
Controller MPPT lebih efisien konversi DC to DC (Direct Current). MPPT dapat mengambil
maximun daya dari panel surya atau solar
cell. MPPT charge controller
dapat menyimpan kelebihan daya yang tidak digunakan oleh beban ke
dalam baterai, dan apabila daya yang dibutuhkan beban lebih besar dari
daya yang dihasilkan oleh panel surya, maka daya dapat diambil dari baterai.
Gambar 3.3 MPPT Solar Charge Controller
Adapun skema pengawatan dalam pemasangan Solar Charge Controller jenis PWM dan
MPPT :
Gambar 3.4 Ilustrasi pengawatan Tipe PWM
Gambar 3.5 Ilustrasi pengawatan Tipe MPPT
Kelebihan MPPT
dalam ilustrasi ini: Panel surya atau solar cell ukuran 120 Watt,
memiliki karakteristik Maximun Power Voltage 17.1 Volt, dan Maximun Power
Current 7.02 Ampere. Dengan PWM solar charge controller dan
tegangan batere 12.4 Volt, berarti daya yang dihasilkan adalah 12.4
Volt x 7.02 Ampere = 87.05 Watt. Dengan MPPT, maka Ampere yang bisa diberikan
adalah sekitar 120W : 12.4 V = 9.68 Ampere.
3.1.1
Fitur Solar Charge Controller
Cara kerja dan fitur Solar Charge Controller yaitu:
a.
Saat tegangan pengisian di
baterai telah mencapai keadaan penuh, maka controller
akan menghentikan arus listrik yang masuk ke dalam baterai untuk mencegah over charge, dengan demikian ketahanan
baterai akan jauh lebih tahan lama.
b.
Saat voltase di baterai dalam
keadaan hampir kosong, maka controller berfungsi menghentikan pengambilan arus
listrik dari baterai oleh beban. Dalam kondisi voltase tertentu (umumnya sekitar
10% sisa voltase di baterai), maka pemutusan arus beban dilakukan oleh controller. Hal ini menjaga baterai dan
mencegah kerusakan pada sel – sel baterai. Pada kebanyakan model controller, indikator lampu akan menyala
dengan warna tertentu (umumnya berwarna merah atau kuning) yang menunjukkan
bahwa baterai dalam proses charging. Dalam kondisi ini, bila sisa arus di
baterai kosong (dibawah 10%), maka pengambilan arus listrik dari baterai akan
diputus oleh controller, maka beban
tidak dapat beroperasi.
c.
Pada controller tipe – tipe tertentu dilengkapi dengan digital meter
dengan indikator yang lebih lengkap, untuk memonitor berbagai macam kondisi
yang terjadi pada sistem PLTS dapat terdeteksi dengan baik.
Seperti yang telah disebutkan di atas solar charge controller yang baik
biasanya mempunyai kemampuan mendeteksi kapasitas baterai. Bila
baterai sudah penuh terisi maka secara otomatis pengisian arus dari panel
surya atau solar cell berhenti. Cara deteksi adalah melalui monitor level
tegangan batere. Solar charge controller
akan mengisi baterai sampai level tegangan tertentu, kemudian apabila level
tegangan drop, maka baterai akan diisi kembali.
Solar Charge
Controller biasanya terdiri dari : 1 input (2 terminal) yang
terhubung dengan output panel surya atau solar cell, 1 output (2
terminal) yang terhubung dengan baterai atau aki dan 1 output (2
terminal) yang terhubung dengan beban (load).
Arus listrik DC yang berasal dari baterai tidak mungkin masuk ke panel sel
surya karena biasanya ada diode
protection yang hanya melewatkan arus listrik DC dari panel surya atau solar cell ke baterai, bukan
sebaliknya.
Solar Charge
Controller bahkan ada yang mempunyai lebih dari 1 sumber
daya, yaitu bukan hanya berasal dari matahari, tapi juga bisa berasal
dari tenaga angin ataupun mikro hidro. Di pasaran sudah
banyak ditemui charge controller (tandem)
yaitu mempunyai 2 input yang berasal dari matahari dan angin. Untuk ini
energi yang dihasilkan menjadi berlipat ganda karena angin bisa bertiup kapan
saja, sehingga keterbatasan waktu yang tidak bisa disuplai energi matahari
secara full, dapat disupport oleh tenaga angin. Bila kecepatan
rata-rata angin terpenuhi maka daya listrik per bulannya bisa jauh lebih besar
dari energi matahari.
3.1.2
Charging Mode Solar Charge Controller
Dalam charging mode,
umumnya baterai diisi dengan metoda three stage charging yaitu:
a.
Fase bulk: baterai akan di-charge sesuai
dengan tegangan setup (bulk - antara
14.4 - 14.6 Volt) dan arus diambil secara maksimum dari panel surya atau
solar cell. Pada saat baterai sudah pada tegangan setup (bulk) dimulailah fase absorption.
b. Fase absorption: pada fase ini, tegangan baterai akan dijaga sesuai dengan
tegangan bulk, sampai solar charge controller timer (umumnya satu
jam) tercapai, arus yang dialirkan menurun sampai tercapai kapasitas
dari baterai.
c.
Fase flloat: baterai akan dijaga
pada tegangan float setting (umumnya
13.4 - 13.7 Volt). Beban yang terhubung ke baterai dapat menggunakan arus
maksimun dari panel surya atau solar cell pada stage ini.
3.2
Operasional Amplifier (Op-amp)
Operasional
Amplifier (Op-Amp) adalah suatu penguat berpenguatan tinggi
yang terintegrasi dalam sebuah chip IC yang memiliki dua input inverting
dan non-inverting dengan sebuah terminal output, dan merupakan salah satu komponen
analog yang populer digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika.
Aplikasi op-amp populer yang paling sering dibuat antara lain adalah rangkaian inverting, non inverting, integrator,
Comparator dan differensiator. Pada
dasarnya operasional amplifier (Op-Amp) merupakan suatu penguat diferensial
yang memiliki 2 input dan 1 output.
Sebagai penguat operasional ideal , operasional
amplifier (Op-Amp) memiliki karakteristik sebagai berikut :
·
Impedansi
Input (Zi) besar = ∞
·
Impedansi
Output (Z0) kecil= 0
·
Penguatan
Tegangan (Av) tinggi = ∞
·
Band
Width respon frekuensi lebar = ∞
·
V0 = 0
Gambar 3.6 Contoh IC Op-Amp
Adapun
salah satu aplikasi penguat operasional yaitu sebagai
pembanding tegangan (komparator). Komparator digunakan sebagai pembanding dua buah
tegangan.
Gambar 3.7 Rangkaian Dasar Komparator
Prinsip kerja rangkaian komparator adalah membandingkan amplitudo
dua buah sinyal, jika +Vin dan −Vin masing-masing menyatakan amplitudo sinyal
masukan tak membalik dan masukan membalik, Vo dan Vsat masing-masing
menyatakan tegangan keluaran dan tegangan saturasi, maka prinsip dasar dari
komparator adalah :
+Vin ≥
−Vin maka Vo = Vsat+
+Vin < −Vin maka Vo = Vsat−
+Vin < −Vin maka Vo = Vsat−
Keterangan:
+Vin = Amplitudo sinyal input tak membalik (V)
−Vin = Amplitudo sinyal input membalik (V)
Vsat+ = Tegangan saturasi + (V)
Vsat− = Tegangan saturasi – (V)
Vo = Tegangan output (V)
+Vin = Amplitudo sinyal input tak membalik (V)
−Vin = Amplitudo sinyal input membalik (V)
Vsat+ = Tegangan saturasi + (V)
Vsat− = Tegangan saturasi – (V)
Vo = Tegangan output (V)
3.3
Metal
Oxide Semiconductor Field Effect Transistor (MOSFET)
Merupakan salah satu jenis transistor yang memiliki impedansi
masukan (gate) sangat tinggi (Hampir tak berhingga) sehingga dengan menggunakan MOSFET sebagai saklar elektronik, memungkinkan
untuk menghubungkannya dengan semua jenis gerbang logika. Dengan menjadikan
MOSFET sebagai saklar, maka dapat digunakan untuk mengendalikan beban dengan
arus yang tinggi dan biaya yang lebih murah daripada menggunakan transistor
bipolar. Untuk membuat MOSFET sebagai
saklar maka hanya menggunakan MOSFET pada kondisi saturasi (ON) dan kondisi
cut-off (OFF).
Ada dua macam tipe MOSFET yaitu:
a. Enhancement (normal "off")
Berada dalam keadaan tersumbat (off) bila tegangan Vgs
(gate-source-voltage) nol. Ia hanya akan menghantar bila terjadi bias tegangan
pada kaki gate.
b. Depletion (normal "on")
Menghantar (on) tanpa bias pada gate. Tegangan bias pun bisa negatif maupun
positif. Dan seperti juga FET, di MOSFET ini juga ada kanal P dan kanal N.
Gambar 3.8
Simbol Mosfet
3.4
IC Timer NE555
IC Timer NE555 adalah sebuah sirkuit terpadu yang digunakan untuk berbagai pewaktu dan multivibrator. Salah satu aplikasi yang digunakan oleh NE555 adalah Astable
Multivibrator. pada astable sesuai dengan namanya yaitu astable yang artinya
tidak stabil karena rangkaian ini tidak memiliki keadaan output berubah-ubah.
dari keadaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa aplikasi dalam
rangkaian kendali. keadaan ini diperoleh dari pengisian dan pengosongan
kapasitor. Pada aplikasi ini IC 555 beroperasi sebagai osilator gelombang kotak
(Square Wave Oscilator). kegunaannya
sebagai generator pulsa, alarm keamanan, pemodulasi, lampu blink (kedip), dan
sebagainya.
Adapun rangkaian astable multivibrator adalah sebagai
berikut:
Gambar 3.9 Astable Multivibrator NE555
Rangkaian ini paling sering digunakan sebagai osilator gelombang kotak atau
pembangkit pulsa.
Adapun
persamaan untuk menghitung frekuensi output gelombang kotak sebagai berikut:
Tabel 3.1 Astable Multivibrator
3.5
Variable Resistor
(Trimpot)
Trimpot adalah resistor
yang nilai hambatannya dapat dirubah secara manual dengan cara
ditrim
dengan menggunakan obeng trim. Trimpot biasa dipakai untuk mengatur
sinyal yang masuk.
Gambar 3.10 Macam-macam
Trimpot
3.6
Dioda
Dioda (Diode)
adalah Komponen Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan
mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi
menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering
dipergunakan sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya
mempunyai 2 Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki
prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu
dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda)
tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya.
Berdasarkan Fungsi
Dioda, Dioda dapat dibagi menjadi beberapa Jenis, diantaranya adalah :
- Dioda
Penyearah (Dioda Biasa atau Dioda Bridge) yang berfungsi sebagai penyearah
arus AC ke arus DC.
- Dioda
Zener yang berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai penstabil
tegangan.
- Dioda
LED yang berfungsi sebagai lampu Indikator ataupun lampu penerangan.
- Dioda
Photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya.
- Dioda
Schottky yang berfungsi sebagai Pengendali.
Gambar 3.11 Macam-macam
Dioda
Pada malam hari, tegangan listrik di modul panel surya adalah nol, tapi baterai terisi penuh
hasil pengisian pada siang hari. Untuk menghindari terjadinya arus balik dari
baterai ke modul panel surya akibat beda tegangan, maka dipasang
dioda penghambat atau blocking dioda di jalur positif panel surya ke baterai. Dioda schottky MBR1645 dipasang untuk melakukan fungsi tersebut.
Gambar
3.12 Dioda MBR1645
3.7
Panel Surya
Panel surya adalah alat yang terdiri dari sel surya yang mengubah cahaya menjadi listrik. Disebut
surya atau Matahari karena Matahari merupakan sumber cahaya terkuat
yang dapat dimanfaatkan. Panel surya sering kali disebut sel photovoltaic, photovoltaic dapat diartikan sebagai cahaya-listrik.
Sel surya bergantung pada efek photovoltaic
untuk menyerap energi Matahari dan menyebabkan arus mengalir antara dua lapisan
bermuatan yang berlawanan.
3.7.1
Struktur Sel
Surya
Gambar
3.13 Struktur Sel Surya
Gambar 3.13
menunjukan ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya. Secara umum
terdiri dari :
a.
Substrat/Metal backing
Substrat adalah material yang
menopang seluruh komponen sel surya. Material substrat juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik
karena juga berfungsi sebagai kontak terminal positif sel surya, sehinga
umumnya digunakan material metal atau logam seperti aluminium atau molybdenum.
Untuk sel surya dye-sensitized
(DSSC) dan sel surya organik, substrat juga berfungsi sebagai tempat
masuknya cahaya sehingga material yang digunakan yaitu material yang konduktif
tapi juga transparan seperti indium tin oxide
(ITO) dan flourine doped tin oxide (FTO).
b.
Material semikonduktor
Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang biasanya
mempunyai tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya generasi
pertama (silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis. Material
semikonduktor inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar matahari. Untuk
kasus gambar diatas, semikonduktor yang digunakan adalah material silikon, yang
umum diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan untuk sel surya lapisan
tipis, material semikonduktor yang umum digunakan dan telah masuk pasaran yaitu
contohnya material Cu(In,Ga)(S,Se)2 (CIGS),
CdTe (kadmium telluride), dan amorphous silikon, disamping material-material
semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam penelitian intensif
seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS) dan Cu2O
(copper oxide).
Bagian semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua
material semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang
disebutkan diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang
membentuk p-n junction. P-n junction ini menjadi kunci dari prinsip kerja sel
surya.
c.
Kontak metal / contact grid
Selain substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material
semikonduktor biasanya dilapiskan material metal atau material konduktif
transparan sebagai kontak negatif.
d.
Lapisan antireflektif
Refleksi cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang
terserap oleh semikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh
lapisan anti-refleksi. Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material
dengan besar indeks refraktif optik antara semikonduktor dan udara yang
menyebabkan cahaya dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan
cahaya yang dipantulkan kembali.
e.
Enkapsulasi / cover glass
Bagian ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya dari
hujan atau kotoran.
3.7.2
Cara Kerja Sel Surya
Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu
junction antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari
ikatan-ikatan atom yang dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar.
Semikonduktor tipe-n mempunyai kelebihan elektron (muatan negatif)
sedangkan semikonduktor tipe-p mempunyai kelebihan hole (muatan positif)
dalam struktur atomnya. Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut bisa
terjadi dengan mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk
mendapatkan material silikon tipe-p, silikon didoping oleh atom boron,
sedangkan untuk mendapatkan material silikon tipe-n, silikon didoping oleh atom
fosfor. Ilustrasi Gambar 3.14
menggambarkan Junction antara semikonduktor tipe-p
(kelebihan hole) dan tipe-n (kelebihan elektron).
Gambar
3.14 Junction
Antara Semikonduktor
Peran dari p-n
junction ini adalah untuk membentuk medan listrik sehingga elektron (dan hole)
bisa diekstrak oleh material kontak untuk menghasilkan listrik. Ketika
semikonduktor tipe-p dan tipe-n terkontak, maka kelebihan elektron akan
bergerak dari semikonduktor tipe-n ke tipe-p sehingga membentuk kutub positif
pada semikonduktor tipe-n, dan sebaliknya kutub negatif pada
semikonduktor tipe-p. Akibat dari aliran elektron dan hole ini maka
terbentuk medan listrik yang mana ketika cahaya matahari mengenai susuna
p-n junction ini maka akan mendorong elektron bergerak dari semikonduktor
menuju kontak negatif, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai listrik, dan
sebaliknya hole bergerak menuju kontak positif menunggu elektron datang,
seperti diilustrasikan pada Gambar 3.15.
Gambar
3.15 Ilustrasi
cara kerja sel surya
3.8
Baterai
Baterai
atau aki, atau bisa juga accu adalah sebuah sel listrik dimana di dalamnya
berlangsung proses elektrokimia yang reversibel (dapat berbalikan) dengan
efisiensinya yang tinggi. Yang dimaksud dengan proses elektrokimia reversibel,
adalah di dalam baterai dapat berlangsung proses pengubahan kimia menjadi
tenaga listrik (proses pengosongan), dan sebaliknya dari tenaga listrik menjadi
tenaga kimia, pengisian kembali dengan cara regenerasi dari elektroda-elektroda
yang dipakai, yaitu dengan melewatkan arus listrik dalam arah (polaritas) yang
berlawanan di dalam sel.
Baterai ini sangat penting dalam penggunaan panel surya
dan lebih besar penyimpanannya lebih bagus, satuan yang di pakai di baterai ini
adalah Ampere Hour (AH). ika pada kotak baterai tertulis 12 volt 60 AH, berarti
baterai baterai tersebut mempunyai tegangan 12 volt dimana jika baterai
tersebut digunakan selama 1 jam dengan arus pemakaian 60 Amper, maka kapasitas baterai tersebut setelah 1 jam akan
kosong (habis).
Untuk sistem panel surya usahakan baterai yang di pakai
jenis Maintenance Free (MF) atau
bebas perawatan. Umumnya baterai baterai dapat di charge atau di isi sampai
tegangan 14,7 Volt.
Gambar
3.16 Baterai MF
BAB
IV
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PWM SCC
4.1
Perancangan PWM Solar
Charge Controller
Kebutuhan
listrik dengan memanfaatkan energi alternatif sudah mulai
di gunakan diantaranya menggunakan panel
surya atau solar cell, Karena dari
segi minim perawatan dan ketahanan
(durability) yang sangat lama. Tetapi untuk menggunakan panel surya ini perlu
beberapa perangkat diantaranya Solar Charge Controller (sebagai perangkat
pengatur pengisian ke baterai) dan baterai sebagai media penyimpan energi yang
di hasilkan oleh panel surya. Dan yang akan dibuat adalah Solar Charge
Controller dengan jenis PWM, dengan menggunakan komparator Op-Amp sebagai
control pengisian dan IC NE555 sebagai modulasi PWM. Berikut adalah gambar blok
diagram Solar Charge Controller yang kan di buat:
Gambar 4.1 Blok diagram SCC PWM
4.2
Skema Rangkaian
Skema rangakaian dibuat
menggunakan bantuan software eagle pcb.
Gambar
4.2 Skematik Rangkaian
4.3
Analisis dan Perhitungan
Analisis
dan perhitungan akan di bahas secara bagian dari setiap blok diagram.
4.3.1
Perhitungan tegangan referensi dan pembanding Op-Amp
Terdapat pengaturan dalam komparator dengan menentukan
nilai tegangan referensi (Vref) dan tegangan input (Vin).
a.
Tegangan referensi
(Vref)
Dalam skema dan blok
op-amp, vref terdapat pada titik A. Vref sudah di seting oleh dioda zener
sebesar 5,1 Volt (D1) agar tegangan stabil, dan karena sifatnya hanya pembagian
tegangan dan tegangan referensi arus yang masuk diusahakan bernilai kecil agar dioda
zener tidak panas hal ini bisa di tambahkan dengan resistor secara seri dengan
dioda zener. Adapun persamaan untuk menentukan arus seri dan nilai resistor sebagai
berikut:
·
Arus seri
Dengan keterangan:
Is = Arus seri
Vs = Tegangan Input (VCC)
Vz = Tegangan zener atau tegangan referensi (D1)
Rs = Resisitor seri (R4)
Karena arus bernilai kecil maka
bisa di tetapkan sebesar 1 mA dan Vs atau VCC bernilai 14,7 V (kondisi baterai
terisi penuh), hal ini agar mempermudah mencari nilai Rs. Maka persamaan
menjadi:
b. Tegangan
input (Vin).
Untuk menentukan nilai perbandingan dalam Vin dibutuhkan
nilai tegangan yang dapat di atur dengan menambahkan variabel resisitor dan
harus terdapat dua nilai tegangan yang harus lebih besar dan lebih kecil dari
Vref.
Untuk mempermudah mencari kedua tegangan tersebut
ditetapkan nilai resistor dan tegangan input sebagai berikut:
· R1 =
· R3 =
· R2 =
·
Vin = 14,7 V (tegangan baterai
penuh)
Untuk persamaan bisa menggunakan pembagian tegangan sebagai berikut:
Nilai tegangan
max:
Nilai tegangan
min:
Setelah nilai tegangan max dan
min diperoleh maka bandingkan dengan Vref, jika terdapat dua nilai tegangan lebih besar dan lebih kecil dari Vref, hal
ini nilai tegangan yang di butuhkan sesuai dengan komparator.
Gambar 4.3 Blok Op-Amp
4.3.2
Perhitungan Modulasi Sinyal PWM
Dari berbagai sumber yang di dapat
modulasi PWM dalam mengisi baterai memiliki manfaat sebagai desulfator (bisa
mengisi baterai yang sudah tidak bisa di isi dengan charger biasa karena proses
Sulfation) dan mengoptimalkan usia baterai.
Dari berbagai sumber frekuensi output
yang disarankan adalah 1 kHz sampai
dengan 6 kHz. Karena hanya untuk mengoptimalkan bukan untuk memperbaiki
baterai, jadi digunakan frekuensi paling rendah sebesar 1 kHz. Tetapkan nilai C
sebesar 1 nF agam mempermudah menentukan nilai resistor persamaan menjadi:
·
R1 = 1.000.000
= 1
·
2.R2 = 440.000
440
·
R2 = 220
Gambar 4.4
Astable Multivibrator NE555
4.3.3
Perhitungan Pengisian Panel Surya ke Baterai
Untuk mengisi baterai dari kosong hingga penuh dengan
menggunakan panel surya harus mencari daya total dari panel surya dan baterai
itu sendiri.
Dalam uji coba perancangan dan implementasi Solar Charge
Controller Baterai yang digunakan berjenis Maintenance Free (MF)
atau bebas perawatan. Dengan spesifikasi GS Astra Tipe 46B24LS 12V 45Ah. Jika
menggunakan baterai yang sebesar 45 Ah 12
V, maka daya totalnya sebesar:
Dalam
uji coba perancangan dan implementasi Solar Charge Controller
panel surya yang digunakan berdaya 100 Wp (watt
peak). Adapun spesifikasinya dalam Gambar
4.5 :
Gambar 4.5 Panel Surya 100Wp
Jika menggunakan ukuran panel surya yang 100 Wp (watt peak), maka dalam sehari panel surya ini
kurang lebih menghasilkan supply sebesar:
100 Wp x 5 (jam) = 500 watt
Adapun 5 jam didapat dari efektivitas
rata-rata waktu sinar matahari bersinar yang diserap oleh panel surya yang di dapatkan dari Tabel 4.1 Pengamatan
Efektivitas rata-rata yang telah di uji coba di lapangan secara berkala setiap
satu jam.
Tabel 4.1 Tabel Pengamatan Efektivitas
rata-rata
|
NO
|
WAKTU
|
TEGANGAN (V)
|
ARUS (I)
|
|
1
|
08.00
|
11,78
|
0,89
|
|
2
|
08.30
|
12,56
|
1,13
|
|
3
|
09.00
|
13,86
|
2,56
|
|
4
|
09.30
|
14,15
|
3,48
|
|
5
|
10.00
|
14,27
|
3,96
|
|
6
|
10.30
|
14,59
|
4,34
|
|
7
|
11.00
|
14,73
|
4,67
|
|
8
|
11.30
|
15,06
|
4,96
|
|
9
|
12.00
|
15,14
|
5,32
|
|
10
|
12.30
|
15,09
|
5,04
|
|
11
|
13.00
|
14,95
|
4,78
|
|
12
|
13.30
|
14,68
|
4,56
|
|
13
|
14.00
|
14,37
|
4,47
|
|
14
|
14.30
|
14,23
|
4,25
|
|
15
|
15.00
|
13,68
|
2,36
|
|
16
|
15.30
|
13,42
|
2,24
|
|
17
|
16.00
|
12,88
|
1.76
|
|
18
|
16.30
|
12,34
|
1,08
|
|
19
|
17.00
|
11.02
|
0,23
|
Setelah melakukan
uji coba rangkaian di lapangan dengan pengukuran Arus dan Tegangan menggunakan
Multimeter Digital pada Gambar 4.6 di dapatkan hasil pada Tabel 4.1. Uji coba
di lakukan mulai pukul 08.00 sampai dengan 17.00 secara berkala setiap 30 menit
untuk menghitung rata-rata Arus dan Tegangan dan didapatkan waktu 5 jam, dari
pukul 10.00 sampai pukul 14.00 Arus dan Tegangan adalah ideal untuk pengisian
ke baterai karena dibutuhkannya Tegangan lebih dari 14 Volt untuk membuat
baterai penuh.
Gambar
4.6 Wiring Pegukuran
loading...
























Comments
Post a Comment